Friday, 6 January 2012

Pertanyaan: Siapa nama filsuf yang tidak tahu apa – apa? Jawab : Socrates, karena filsafat Sokcates adalah aku ada jika aku bertanya. Dari sinilah Socrates bisa mengetahui akan semua hal.
bagaimana aku bisa terbang? aku terbang dengan berpikir kritis. Dalam filsafat kita membutuhkan pikiran yang kritis, yang akan memberikan kebebasan kita untuk berpikir tentang apapun, yang berarti kita bisa terbang bebas kemanapun yang kita inginkan.
tak mampu mengerti filsafat Karena belum mampu mendefinisikan filsafat, Karena belum mampu menggapai pikiran para filsuf, Karena belum mampu mengenali diriku, Karena belum mampu membangun dunia, maka olah pikir ini masih jauh dari pikiran para filsuf
tak mampu mendefinisikan filsafat pengetahuan yang didalamnya tercakup empat persoalan. Apakah yang dapat kita kerjakan ?(jawabannya metafisika ) Apakah yang seharusnya kita kerjakan (jawabannya Etika ) Sampai dimanakah harapan kita ?(jawabannya Agama ) Apakah yang dinamakan manusia ? (jawabannya Antropologi ) Plato ( 428 -348 SM ) : Filsafat tidak lain dari pengetahuan tentang segala yang ada. Aristoteles ( (384 – 322 SM) : Bahwa kewajiban filsafat adalah menyelidiki sebab dan asas segala benda. Dengan demikian filsafat bersifat ilmu umum sekali. Tugas penyelidikan tentang sebab telah dibagi sekarang oleh filsafat dengan ilmu. Bertrand Russel: Filsafat adalah sesuatu yang berada di tengah-tengah antara teologi dan sains. Sebagaimana teologi , filsafat berisikan pemikiran-pemikiran mengenai masalah-masalah yang pengetahuan definitif tentangnya, sampai sebegitu jauh, tidak bisa dipastikan;namun, seperti sains, filsafat lebih menarik perhatian akal manusia daripada otoritas tradisi maupun otoritas wahyu. Dari pengertian filsafat secara pribadi belum bisa berfikir seperti para filsuf. Jadi, belum mampu mendefinisikan filsafat seperti para filsuf tersebut.
komen menemukan dunia adalah diriku Aku terus dan terus tumbuh seperti rumput; Aku telah alami tujuhratus dan tujuhpuluh bentuk. Aku mati dari mineral dan menjadi sayur-sayuran; Dan dari sayuran Aku mati dan menjadi binatang. Aku mati dari kebinatangan menjadi manusia. Maka mengapa takut hilang melalui kematian? Kelak aku akan mati Membawa sayap dan bulu seperti malaikat: Kemudian melambung lebih tinggi dari malaikat – Apa yang tidak dapat kau bayangkan. Aku akan menjadi itu. Sumber: http://www.2lisan.com/11/jalaluddin-rumi/
komen filsafat dunia bahasa Manusia adalah makhluk sosial yang selalu berinteraksi dengan manusia lain. Interaksi antar manusia disebut komunikasi. Untuk berkomunikasi, manusia memerlukan bahasa sebagai alat. Bahas memiliki peran vital dalam kehidupan. Tanpa bahasa manusia tidak dapat bekerja sama dengan manusia lain. Sebenar- benarnya dunia adalah bahasa.
komen menemukan filsafat adalah diriku RUMAH Jika sepuluh orang ingin memasuki sebuah rumah, dan hanya sembilan yang menemukan jalan masuk, yang kesepuluh mestinya tidak mengatakan, “Ini sudah takdir Tuhan.” Ia seharusnya mencari tahu apa kekurangannya. BURUNG HANTU Hanya burung bersuara merdu yang dikurung. Burung hantu tidak dimasukkan sangkar
komen sintesis hati dan pikiran Cak Nun dalam satu artikelnya pernah menulis “Pikiran ikut menolongnya (hati) mendapatkan kejernihan dan ketetapan itu (Tuhan), tapi pikiran tidak bisa menerangkan apa-apa tentang Tuhannya. Pikiran mengabdi kepada hatinya, hati selalu bertanya kepada Tuhannya. Di hadapan Tuhan, pikiran adalah kegelapan dan kebodohan. Jika pikiran ingin mencapai Tuhannya, ia menyesuaikan diri dengan hukum dimensi hatinya. Jika tidak, pikiran akan menawarkan kerusakan, keterjebakan dan boomerang”
komen transformasi dunia Ilmu berupa pengetahuan kolektif manusia berkembang sesuai dengan sarana kominfo yang dominan pada suatu waktu. Pengetahuan sosial dari masa ke masa berkembang dari mitologi ke teologi terus ke filsafat yang digantikan sains yang segera diganti oleh ideologi yang kini pada gilirannya digantikan oleh imagologi. Teologi dan filsafat dilahirkan oleh teknologi tulis, sedangkan sains dilahirkan oleh teknologi cetak. Sementara itu ideologi menjadi dominan di abad 20 ketika media elektronik seperti radio dan televisi menjadi dominan. Kini imagologi dominan ketika komputer dan internet menjadi dominan di abad 21.
komen filsafat pendidikan matematika Logika matematika diperhatikan dengan meletakkan matematika pada sebuah kerangka kerja aksiomatis yang kaku, dan mengkaji hasil-hasil kerangka kerja itu. Logika matematika adalah rumah bagi Teori ketaklengkapan kedua Gödel, mungkin hasil yang paling dirayakan di dunia logika, yang (secara informal) berakibat bahwa suatu sistem formal yang berisi aritmetika dasar, jika suara (maksudnya semua teorema yang dapat dibuktikan adalah benar), maka tak-lengkap (maksudnya terdapat teorema sejati yang tidak dapat dibuktikan di dalam sistem itu). Gödel menunjukkan cara mengonstruksi, sembarang kumpulan aksioma bilangan teoretis yang diberikan, sebuah pernyataan formal di dalam logika yaitu sebuah bilangan sejati-suatu fakta teoretik, tetapi tidak mengikuti aksioma-aksioma itu. Oleh karena itu, tiada sistem formal yang merupakan aksiomatisasi sejati teori bilangan sepenuhnya. Logika modern dibagi ke dalam teori rekursi, teori model, dan teori pembuktian, dan terpaut dekat dengan ilmu komputer teoretis.
komen perjalanan filsafat Filosofi Kopi, Perjalanan Hidup dan Pertanyaan ''Kenapa', 'Bagaimana' Mungkin sedikit berhubungan Kopi yang baik tak hanya bergantung pada citarasa. Cerita tentang racikan Robusta diseduh dan dicampur aroma arabika, tak sebanding dengan suasana...... // Hidup itu bukan untuk kerja. Tetapi kerja adalah untuk hidup. Dijamin kalo hidup untuk kerja, yang ada hanyalah bagaimana menambah dan memperbanyak kekayaan. Kalau kerja adalah untuk menopang hidup, yakin saja kreatifitas akan lahir dari situ..... // Bukankah hidup juga butuh jalanjalan, mencari ketenangan dan inspirasi kemudian melahirkan pertanyaan 'Bagaimana', bagaimana kalau begini, bagaimana kalau begitu. Pertanyaan 'kenapa' hanya muncul pada filosofi mendasar kenapa hidupku begini, atau kenapa hidup saya cuma kerja melulu.. // Kebanyakan dari tokoh dunia menemukan segala sesuatunya dari sebuah kebetulankebetulan, biasanya bukan dari sebuah rencana. Melihat kegagalan adalah sebuah pelajaran berharga.. 'Kenapa' lalu 'Bagaimana' Sebut saja si 'eureka-eureka' dia menemukan sesuatu pada saat berendam di dalam bak mandi dan keluar di keramaian banyak orang dengan telanjang "Aku menemukannya" Lalu apakah hubungan antara Filosofi kopi, perjalanan Hidup dan pertanyaan 'kenapa', 'Bagaimana' ?? Hubungannya baikbaik saja Kini hidupnya yang seorang pegawai rendahan, juga memiliki waroeng kopi larismanis racikannya, untungnya lebih dari pendapatannya sebagai pegawai rendahan dibanding jutaan rupiah tiap hari yang masuk ke waroengnya. Karna ia pecinta kopi membuat filosofi berdasarkan pahitnya kopi seperti perjalanan hidupnya yang berliku dan pahit namun tabah dan berusaha dimulai dengan 'kenapa' lalu 'bagaimana'. Nasibnya ada di tangannya Takdirnya sudah jelas di Tangan-Nya,
komen tema kematian di rsbi Kementerian Pendidikan Nasional akan mengevaluasi rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) dari segi nilai moral dan akhlak. Direktur Jenderal Pendidikan Menengah Kemdiknas Hamid Muhammad mengatakan, hingga saat ini, Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemdiknas masih melakukan evaluasi terhadap RSBI. moral dan akhlak menjadi bagian penting dalam RSBI karena sekolah jenis ini merupakan panutan bagi sekolah standar nasional (SSN) dan sekolah umum lainnya. Oleh karena itu, sekolah-sekolah yang tak bisa menunjukkan poin moral dan akhlak pada peserta didiknya, status RSBI tidak akan mudah diberikan.
komen artikel populer:pendidikan karakter Pendidikan Karakter merupakan suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil.

Thursday, 5 January 2012

komen: Metafisika Filsafat Sumbangan metafisika terhadap ilmu pengetahuan tidak dapat disangkal lagi adalah pada fundamental ontologisnya. Sumbangan metafisika pada ilmu pengetahuan adalah persinggungan antara metafisika dan/atau ontologi dengan epistemologi. Dalam metafisika yang mempertanyakan, apakah hakikat terdalam dari kenyataan? yang di antaranya dijawab bahwa hakikat terdalam dari kenyataan adalah materi, maka muncullah paham materialisme. Sedangkan dalam epistemologi yang dimulai dari pertanyaan, bagaimanakah cara kita memperoleh pengetahuan?, yang dijawab salah satunya oleh Descartes, bahwa kita memperoleh pengetahuan melalui akal, maka muncullah rasionalisme. John Locke yang menjawab pertanyaan tersebut bahwa pengetahuan diperoleh dari pengalaman, maka ia telah melahirkan aliran empirisme, dan lainnya. Berbagai perdebatan dalam metafisika mengenai realitas, ada-tiada, dan lainnya sebagaimana telah dikemukakan di depan yang telah melahirkan berbagai pandangan yang berbeda satu sama lain secara otomatis juga melahirkan berbagai aliran pemahaman yang lazim dinyatakan sebagai aliran-aliran filsafat awal. Ketika pemahaman aliran-aliran filsafat tersebut dipertemukan dengan ranah epistemologis atau dihadapkan pada fenomena dinamika perkembangan ilmu pengetahuan akan menghasilkan percabangan disiplin ilmu baru (Kennick).
komen Elegi Guru Menggapai Perubahan Untuk mengimbangi kemajuan teknologi yang begitu pesat dan canggih ini, duni pendidikan juga harus melakukan perubahan dan peningkatan kualitas agar dapat memberikan kesempatan yang maksimal kepada para muridnya. Salah satu alternatif untuk meningkatkan kompetensi guru tersebut adalah dengan mengikuti pelatihan ataupun workshop.Program-program pelatihan baik yang sifatnya jangkan pendek maupun jangkan panjang, pada dasarnya dimaksudkan untuk memberi pengaruh positif pada perbaikan pembelajaran di kelas khususnya peningkatan kualitas pembelajaran siswa (Patahuddin, 2010). Namun demikian, penelitian terdahulu juga telah mengungkap isu sulitnya menyelidiki perubahan yang terjadi pada guru, khususnya kesulitan untuk mengambil kesimpulan apakah perubahan tersebut bersifat permanen atau hanya sementara (Borko, 2004; Borko, Mayfield, Marion, Flexer, & Cumbo, 1997).
komen Do the Teachers need to Research their Own Teaching ? Sebagai guru kadang-kadang kita menemukan masalah: (1) meliputi berbagai kebutuhan kompetensi akademik, (2) mempromosikan cara siswa belajar aktif. Untuk para guru, penelitian tertentu dapat membantu mereka untuk mengembangkan model pengajaran matematika. Tujuan dari penelitian pendidikan dapat untuk secara aktif meningkatkan praktek mengajar matematika berdasarkan posisi ideal dari model yang baik dari mengajar matematika sekunder dan atas dasar asumsi bahwa guru dapat belajar dan menciptakan pengetahuan melalui / nya pengalaman konkret dan mengamati dan merenungkan pengalaman itu. Manfaat mencolok dari penelitian ini karena itu adalah bahwa pemahaman guru dan situasi proses belajar mengajar harus ditingkatkan. Guru yang dianggap rekan kerja dalam melakukan penelitian dan peneliti tidak dianggap ahli luar. Dengan demikian, pendekatan dari penelitian ini adalah penyelidikan evaluatif-reflektif-partisipatif-kolaboratif pengajaran kritis.
komen ungkapan seorang mahasiswa Penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan oleh Sdri. Irma Wasiaty sangat memberikan inspirasi dalam inovasi pembelajaran matematika di kelas. Namun, kondisi sekolah di SMP N 1 Sleman belum tentu tidak sama dengan kondisi kelas di SMA dan SMP yang saya ampu. Hal ini menjadikan beberapa faktor dalam penelitian tersebut yang tidak dapat digeneralisasikan untuk setiap sekolah menengah di seluruh Yogyakarta atau bahkan di seluruh Indonesia. Tetapi, saya sangat mengapresiasi Penelitian Tindakan Kelas yang telah terlaksana karena ide-ide kreatif dan gagasan yang dapat saya terapkan di dalam pembelajaran pada kelas saya. Terima kasih.
komen construc math knowledge Membangun pengetahuan matematika sesuai dua paham terhadap matematika yang memandang bahwa matematika adalah suatu bidang yang dinamis dan tumbuh (NCTM, 1989; MSEB, 1989,1990) di satu pihak dan aliran yang memandang bahwa matematika adalah disiplin ilmu yang statis, yang peduli terhadap konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan ketrampilan-ketrampilan matematka (Fisher, 1990) di sisi lain. Di dalam proses belajar mengajar tercakup komponen, pendekatan, dan berbagai metode pengajaran yang dikembangkan dalam proses tersebut. Tujuan utama diselenggarakannya proses belajar adalah demi tercapainya tujuan pembelajaran. Dan tujuan tersebut utamanya adalah keberhasilan siswa dalam belajar dalam rangka pendidikan baik dalam suatu mata pelajaran maupun pendidikan pada umumnya. Jika guru terlibat di dalamnya dengan segala macam metode yang dikembangkannya maka yang berperan sebagai pengajar berfungsi sebagai pemimpin belajar atau fasilitator belajar, sedangkan siswa berperan sebagai pelajar atau individu yang belajar. Usaha-usaha guru dalam proses tersebut utamanya adalah membelajarkan siswa agar tujuan khusus maupun umum proses belajar itu tercapai.
komen the role of lesson study The study analyzes the impact of “Lesson Study”-based school experience program on the improvement of preservice teachers’ teaching competencies. Unlike the usual school experience program, the “Lesson Study”-based school experience program required the preservice teachers to follow steps of “Lesson Study”, i.e. plan, do, and see. For the purpose of the study, lessons taught by the preservice teachers’ are fully documented using a video camera. In addition, a students’ questionnaire was also administrated to collect data on classroom emotional climate. Analysis of the videos find that the pre-service teachers’ can perform most indicators of teachers teaching competencies. The utilization of teaching resources, however, is still limited. Analyzes of the questionnare show that classroom emotional climate is quite good. The findings suggest that the preservice teachers’ participated in “Lesson Study”-based school experience still shown some weaknesses in their teaching. During the reflection sessions, however, the pre-service teachers admitted that “Lesson Study” based school experience program provided them with meaningful insights on how to improve their teaching competencies
komen philosophical ground Proses perubahan dalam dunia pendidikan sangatlah kompleks. Sebagai contoh perubahan pada proses pembelajaran di kelas akan secara langsung membantu para siswa membangun pengetahuannya untuk bersaing secara global. Harapannya, untuk kehidupan yang akan datang para sisiwa dapat membangun Indonesia yang tangguh di mata Internasional. Selain itu, peningkatan sumber daya manusia melalui pendidikan bisa juga dilakukan secara bersama guru-guru sebagai tenaga pendidik yang potensial untuk memberikan pengajaran yang terbaik dan maksimal kepada anak didik. Dengan peningkatan kualitas guru yang diseleraskan dengan kemajuan teknologi di bidang pendidikan sudah pasti akan menambah semangat anak didik di kelas ketika pembelajaran berlangsung. Di samping itu, pengembangan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan yang berkarakter justru sangat diharapkan hasilnya. Karena dengan pendidikan berkarakter kualitas manusia terlihat secara intelektualnya dan spiritualnya.
Komen referensi developing mathematics education Terima kasih atas sharing referensi yang telah bapak rekomendasikan. Referensi ini sangat bermanfaat bagi para pengembang ilmu untuk menuju sekolah bertaraf internasional (SBI) karena banyak sumber yang berasal dari negara-negara OECD termasuk saya sebagai mahasiswa bapak. Semoga saya dapat mengembangkan lebih dalam lagi secara ekstensif dan internsif dalam pembelajaran yang saya lakukan. Semoga Allah meridhoi kita semua dan melimpahkan berkah yang berlimpah kepada kita semua terlebih kepada bapak Marsigit yang telah memberikan ilmu yang sangat banyak. Amin.
komen SBI sebuah epystemologi kebijakan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) merupakan upaya pemerintah untuk memperbaiki kualitas pendidikan Indonesia agar mempunyai daya saing dengan negara maju di era global. Salah satunya dengan mengadopsi standar internasional anggota OECD sebagai faktor kunci tambahan di samping Standar Nasional Pendidikan. Sedangkan pembelajaran, penilaian, dan penyelenggaraan SBI berkarakteristik sebagai berikut : (1) pro-perubahan, yaitu proses pembelajaran yang mampu menumbuhkan dan mengembangkan daya kreasi, inovasi, nalar, dan eksperimentasi untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan baru, a joy of discovery, (2) menerapkan model pem-belajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan; student centered; reflective learning, active learning; enjoyable dan joyful learning, cooperative learning; quantum learning; learning revolution; dan contextual learning, yang kesemuanya itu telah memiliki standar internasional; (3) menerapkan proses pembelajaran berbasis TIK pada semua mata pelajaran; (4) proses pembelajaran menggunakan bahasa Inggris, khususnya mata pelajaran sains, matematika, dan teknologi; (5) proses penilaian dengan menggunakan model penilaian sekolah unggul dari negara anggota OECD dan/atau negara maju lainnya, dan (6)dalam penyelenggaraan SBI harus menggunakan standar manajemen intenasional, yaitu mengoimplementasikan dan meraih ISO 9001 versi 2000 atau sesudahnya dan ISO 14000, dan menjalin hubungan sister school dengan sekolah bertaraf internasional di luar negeri. Jadi, setiap elemen yang ada dalam sekolah yang akan menuju RSBI atau pun SBI harus mendukung dan berupaya semaksimal mungkin untuk meningkatkan kualitas sebagai tenaga kependidikan yang bertanggung jawab terhadap amanat Undang-undang SBI.

Wednesday, 4 January 2012

Pengembangan standar isi dilakukan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yang dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005. Standar isi meliputi standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dicapai oleh peserta didik. Agar peserta didik dapat mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar, maka perlu didukung standar proses dan standar pendidik dan tenaga kependidikan. Berdasarkan Peraturan Kementrian Pendidikan Nasional nomor 41 tahun 2007 tentang standar proses, telah diatur tentang perencanaan proses pembelajaran yang mensyaratkan bagi pendidik pada satuan pendidikan untuk mengembangkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Salah satu komponen dalam penyusunan RPP adalah sumber atau bahan belajar. Adanya Sumber-sumber atau bahan belajar dalam komponen RPP, menuntut seorang pendidik untuk mampu mengembangkan bahan ajar dengan baik. Sumber belajar dan bahan ajar adalah dua kata yang sering diaggap sama namun berbeda dalam hal definisi. Sadiman (Depdiknas,2008:5) mendefinisikan sumber belajar sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk belajar, yakni dapat berupa orang, benda, pesan, bahan, teknik, dan latar. Selanjutnya, sumber belajar (Depdiknas, 2008:5) dapat dikategorikan sebagai berikut. a. Tempat atau lingkungan alam sekitar yaitu dimana saja seorang dapat melakukan belajar. b. Benda yaitu segala benda yang memungkinkan seseorang untuk belajar. c. Orang yaitu siapa saja yang memiliki keahlian tertentu dimana seseorang dapat belajar sesuatu. d. Bahan yaitu segala sesuatu yang berupa teks tertulis, cetak, rekaman, elektronik, web, dan lain-lain yang dapat digunakan untuk belajar. e. Peristiwa dan fakta yang sedang terjadi. Berdasarkan uraian mengenai pengertian sumber belajar tersebut, bahan ajar dapat dikatakan sebagai bagian dari sumber belajar. Menurut National Centre for Vocational Education Research Ltd (Depdiknas, 2008:7), bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru atau instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Menurut Ade Kosnandar (Ida Rianawaty, 2010), bila ditinjau dari subjeknya, bahan ajar dapat dikategorikan menjadi dua jenis, yakni bahan ajar yang sengaja dirancang untuk belajar (misalnya modul dan LKS) serta bahan yang tidak dirancang untuk belajar namun dapat digunakan untuk belajar (misalnya film, kliping koran, iklan, dan berita). Bahan ajar (Sigit Priyanto, 2010) dapat dikelompokkan menjadi lima macam, yaitu 1) bahan cetak (printed) seperti antara lain handout, buku, modul, lembar kerja siswa, brosur, leaflet, wallchart, foto/gambar, model/maket. 2) Bahan ajar dengar (audio) seperti kaset, radio, piringan hitam, dan compact disc audio, 3) bahan ajar pandang dengar (audiovisual) seperti video compact disc dan film. 4) bahan ajar multimedia interaktif (interactive teaching materials) seperti seperti CAI (Computer Assisted Instruction), Compact Disk (CD) multimedia pembelajaran interaktif, dan 5) bahan ajar berbasis web (web based learning materials). Modul (Dikmenjur, 2008:4) merupakan salah satu bentuk bahan ajar yang dikemas secara utuh dan sistematis yang di dalamnya memuat seperangkat pengalaman belajar yang terencana dan didesain untuk membantu peserta didik menguasai tujuan belajar yang spesifik. Karakteristik yang diperlukan oleh sebuah modul (Dikmenjur, 2008:5) antara lain: 1. Self Instruction Karakter modul yang self instruction memungkinkan seseorang belajar secara mandiri dan tidak tergantung pada pihak lain. a. Memuat tujuan pembelajaran yang jelas dan dapat menggambarkan pencapaian standar kompetensi serta kompetensi dasar. b. Memuat materi pembelajaran yang dikemas dalam unit-unit kegiatan yang kecil (spesifik) sehingga memudahkan dipelajari secara tuntas. c. Tersedia contoh dan ilustrasi yang mendukung kejelasan pemaparan materi pembelajaran. d. Terdapat soal-soal latihan, tugas, dan sejenisnya yang memungkinkan untuk mengukur penguasaan peserta didik. e. Kontekstual, yaitu materi yang disajikan terkait dengan suasana, tugas atau konteks kegiatan dan lingkungan peserta didik. f. Menggunakan bahasa yang sederhana dan komunikatif. g. Terdapat rangkuman materi pembelajaran. h. Terdapat instrumen penilaian yang memungkinkan peserta didik melakukan penilaian mandiri (self assessment). i. Terdapat umpan balik atas penilaian peserta didik, sehingga peserta didik mengetahui tingkat penguasaan materi. 2. Self Contained Modul dikatakan self contained bila seluruh materi pembelajaran yang dibutuhkan termuat dalam modul tersebut. Tujuan dari konsep ini adalah memberikan kesempatan peserta didik mempelajari materi pembelajaran secara tuntas karena materi belajar dikemas ke dalam satu kesatuan yang utuh. 3. Stand Alone Stand alone atau berdiri sendiri merupakan karakteristik modul yang tidak tergantung pada bahan ajar/media lain, atau tidak harus digunakan bersama-sama dengan bahan ajar/media lain. Dengan menggunakan modul, peserta didik tidak perlu bahan ajar yang lain untuk mempelajari dan atau mengerjakan tugas pada modul tersebut. Jika peserta didik masih menggunakan dan bergantung pada bahan ajar lain selain modul yang digunakan, maka bahan ajar tersebut tidak dikategorikan sebagai modul yang berdiri sendiri. 4. Adaptive Modul dikatakan adaptive jika modul tersebut dapat menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta fleksibel/luwes digunakan di berbagai perangkat keras (hardware). 5. User Friendly Modul hendaknya juga memenuhi kaidah user friendly atau bersahabat akrab dengan pemakainya. Setiap instruksi dan paparan informasi yang tampil bersifat membantu dan bersahabat dengan pemakainya, termasuk kemudahan pemakai dalam merespon dan mengakses sesuai dengan keinginan. Penggunaan bahasa yang sederhana, mudah dimengerti, serta menggunakan istilah yang umum digunakan, merupakan beberapa bentuk user friendly. Untuk menghasilkan modul pembelajaran yang mampu memerankan fungsi dan perannya dalam pembelajaran yang efektif, maka modul harus berkualitas. Kualitas modul dinilai dari empat aspek, yaitu aspek-aspek yang didasarkan pada standar penilaian bahan ajar oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (Urip Purwono, 2008) yang antara lain adalah aspek kelayakan isi, kelayakan bahasa, kelayakan penyajian dan kelayakan kegrafikaan. 1. Aspek Kelayakan Isi Aspek kelayakan isi mencakup: a. Kesesuaian Uraian Materi dengan SK dan KD b. Keakuratan Materi c. Kemutakhiran Materi d. Mendorong Keingintahuan 2. Aspek Kelayakan Bahasa Aspek kelayakan bahasa mencakup: a. Lugas b. Komunikatif c. Dialogis dan Interaktif d. Kesesuaian dengan Perkembangan Peserta Didik 3. Aspek Kelayakan Penyajian Aspek kelayakan penyajian mencakup: a. Teknik Penyajian b. Pendukung Penyajian c. Penyajian Pembelajaran d. Koherensi dan Keruntutan Alur Pikir 4. Aspek Kelayakan Kegrafikaan Aspek kelayakan kegrafikaan mencakup: a. Ukuran Modul b. Desain Kulit Modul c. Desain Isi Modul Empat aspek kelayakan tersebut, kemudian dijadikan dasar para ahli untuk menilai modul. Aspek kelayakan isi dan penyajian dinilai oleh ahli materi. Aspek kelayakan bahasa dinilai oleh ahli bahasa. Sedangkan aspek kelayakan kegrafikaan akan dinilai oleh ahli desain modul. Hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan modul adalah penyusunan struktur atau kerangka modul. Depdiknas (2008) menyebutkan bahwa modul berisi paling tidak: 1. Petunjuk Belajar (Petunjuk Siswa/Guru) 2. Kompetensi yang Akan Dicapai 3. Content atau Isi Materi 4. Informasi Pendukung 5. Latihan-latihan 6. Petunjuk Kerja, dapat berupa Lembar Kerja (LK) 7. Evaluasi 8. Balikan terhadap Evaluasi. Kerangka modul lebih terperinci kemukakan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Depdiknas. Berikut ini adalah kerangka penulisan modul yang diadaptasi dari Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional (2008). Halaman Sampul Kata Pengantar Daftar Isi Glosarium Peta Konsep I. PENDAHULUAN A. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar B. Deskripsi C. Waktu D. Prasyarat E. Petunjuk Penggunaan Modul F. Tujuan Akhir G. Cek Penguasaan Standar Kompetensi II. PEMBELAJARAN A. Pembelajaran 1 i. Tujuan ii. Uraian Materi iii. Rangkuman iv. Tugas v. Tes B. Pembelajaran 2-n (dan seterusnya sebanyak n jumlah pembelajaran yang dirancang). i. Tujuan ii. Uraian Materi iii. Rangkuman iv. Tugas v. Tes III. EVALUASI KUNCI JAWABAN DAFTAR PUSTAKA. Berikut ini adalah deskripsi masing-masing tahap kerangka penulisan modul di atas (Dikmenjur, 2008): 1. Halaman Sampul Halaman sampul berisi bidang studi, judul modul, gambar ilustrasi (mewakili kegiatan yang dilaksanakan pada pembahasan modul), tulisan lembaga seperti Departemen Pendidikan Nasional, Universitas Negeri Yogyakarta, dan lain-lain). 2. Kata Pengantar Memuat informasi tentang peran modul dalam proses pembelajaran. 3. Daftar Isi Memuat kerangka (outline) modul dan dilengkapi dengan nomor halaman. 4. Peta Konsep. Diagram yang menunjukkan kedudukan standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam keseluruhan program pembelajaran (sesuai dengan diagram pencapaian kompetensi yang termuat dalam KTSP 2006). 5. Glosarium Memuat penjelasan tentang arti setiap istilah, kata-kata sulit, dan asing yang digunakan. 6. Pendahuluan i. Standar Kompetensi: memuat standar kompetensi yang akan dipelajari pada modul. ii. Deskripsi: memuat penjelasan singkat mengenai ruang lingkup isi modul iii. Waktu: memuat jumlah waktu yang dibutuhkan untuk menguasai kompetensi yang menjadi target belajar. iv. Prasyarat: memuat kemampuan awal yang dipersyaratkan untuk mempelajari modul tersebut, baik berdasarkan bukti penguasaan modul lain maupun dengan menyebut kemampuan spesifik yang diperlukan. v. Petunjuk Penggunaan Modul: memuat panduan tata cara menggunakan modul. vi. Tujuan Akhir: Pernyataan tujuan akhir (performance objective) yang hendak dicapai oleh peserta didik setelah menyelesaikan suatu modul. vii. Cek Penguasaan Standar Kompetensi: Berisi tentang pertanyaan yang akan mengukur penguasaan awal kompetensi peserta didik terhadap kompetensi yang akan dipelajari pada modul ini. 7. Pembelajaran i. Tujuan: memuat kemampuan yang harus dikuasai untuk satu kesatuan kegiatan belajar. Rumusan tujuan kegiatan belajar relatif tidak terikat dan tidak terlalu rinci. ii. Uraian Materi: memuat uraian pengetahuan / konsep / prinsip yang terdapat pada uraian materi. iii. Rangkuman: berisi ringkasan pengetahuan / konsep / prinsip yang terdapat pada uraian materi. iv. Tugas: berisi instruksi tugas yang bertujuan untuk penguatan pemahaman terhadap konsep / pengetahuan penting yang dipelajari. v. Tes: berisi tes tertulis sebagai bahan pengecekan bagi peserta didik dan guru untuk mengetahui sejauh mana penguasaan hasil belajar yang telah dicapai dan sebagai dasar untuk melaksanakan kegiatan berikutnya. 8. Evaluasi Memuat soal-soal untuk menilai pencapaian kemampuan siswa. 9. Daftar Pustaka.
Batik dan Maknanya dalam Kehidupan Masyarakat Yogyakarta Oleh: Faruq Aji BAB I Pengantar Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki beraneka macam kekayaan. Baik itu kekayaan alam, kekayaan kesenian, kekayaan kerajinan, dan masih banyak yang lain. Salah satu wujud dari kekayaan tersebut adalah batik. Siapa yang tidak mengenal batik. Batik adalah sebuah kerajinan yang terbuat dari kain yang diberi hiasan berupa motif, warna, ornamen yang dibuat dengan cara di tulis atau di cap. Batik juga merupakan hasil kerajinan yang paling digemari, karena keindahan yang ditampilkan dari sehelai kain batik itu. Dari keindahan itu memunculkan beraneka macam makna yang oleh kita sebagai penikmat dan pengemar batik tidak kita ketahui. Makna-makna itu biasanya oleh masyarakat Jawa terutama yang menjunjung sekali adat ke-Jawaan seperti Yogyakarta dijadikan sebagai semacam ketentuan, hukum, atau semacam tuntunan yang digunakan dalam kehidupannya. Batik juga dapat dikatakan sebagai sarana akulturasi budaya. Dikatakan demikian karena batik dalam perkembanganya sampai saat sekarang ini terdapat banyak sekali perubahan-perubahan, dan perubahan ini terjadi karena budaya umum yang ada pada saat atau masa itu. Pada masa Hindu, batik cenderung diwarnai motif-motif dan corak yang berhubungan dengan agama Hindu, pada masa Islam, batik juga diwarnai oleh motif dan corak-corak yang islami, walaupun motif-motif dan corak-corak peninggalan Hindu masih ada, namun hanya sebagai tambahan saja. Demikian selanjutnya sampai sekarang batik diwarnai oleh berbagai macam budaya pada masa batik itu ada. Jadi dari sehelai kain batik tersirat beraneka makna dan nilai yang berguna bagi kehidupan. Bagaimana manusia harus berbuat dan bagaimana manusia harus menyikapi kehidupannya agar tercipta suatu keselarasan dan kebahagiaan hidup. BAB II Isi Batik sebagai salah satu kerajinan yang sangat indah memiliki keunggulan yang bermacam-macam. Selain dijadikan sebagai sebuah hasil kerajinan batik juga bisa dijadikan pedoman serta tuntunan hidup sehari-hari karena dalam selembar kain batik tersirat berbagai makna yang dapat dijadikan petunjuk hidup bagaimana manusia berbuat agar menjadi manusia yang unggul dibandingkan dengan manusia lain. Makna-makna batik terkandung dari beraneka corak, warna, dan ornamen yang menghiasi batik tersebut. Berbagai macam makna dan nilai dapat ditampilkan dari selembar kain batik. Yang dapat kita ketahui oleh kita masyarakat awam adalah nilai kendahan atau seni dari batik. Namun dalam sehelai kain batik yang indah itu juga tersirat nilai-nilai kehidupan yang menjadikan manusia itu menjadi manusia yang baik dan berbudi luhur. Bagaimana manusia menjadi baik, bahagia, jujur, arif-bijaksana, adil dan sebagainya yang dapat menjadikan manusia itu dipandang baik bagi kehidupan. Akan dijelaskan dibawah ini berbagai motif, warna, dan ornamen dari kain batik, yaitu: • Motif • Kawung, motif ini konon diciptakan oleh salah satu Sultan Mataram. Motif ini diilhami oleh sebatang pohon aren yang buahnya kita kenal dengan kolang kaling. Motif ini dihubungkan dengan binatang kuwangwung. Pohon aren dari atas (ujung daun) sampai pada akarnya sangat berguna bagi kehidupan manusia, baik itu batang, daun, nira, dan buah. Hal tersebut mengisaratkan agar manusia dapat berguna bagi siapa saja dalam kehidupannya, baik itu dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Makna lain yang terkandung dalam motif kawung ini adalah agar manusia yang memakai motif kawung ini dapat menjadi manusia yang ideal atau unggul serta menjadikan hidupnya menjadi bermakna. • Ceplok, motif ini merupakan modifikasi dari moif kawung. Motif ini dihubungkan dengan kepercayaan orang Jawa, yaitu Kejawen. Dalam ajaran Kejawen ada kekuasan yang mengatur alam semesta. Disini Raja dinggap sebagai penjelmaan para dewa. Raja ini dikelilingi oleh para pembantunya yaitu para bupati. Orang jawa memaknai ini sebagai “ kiblat papat kelimo pancer”. Dewa atau Tuhan sebagai pusat yang mengatur segala. Arah timur mengartikan sumber tenaga kehidupan, karena arah dimana matahari terbit. Arah barat mengartikan sumber tenaga yang berkurang, karena tempat tenggelamnya matahari. Arah selatan mengartikan puncak segalanya, dihubungkan dengan zenith. Arah utara sebagai arah kematain. • Parang Rusak, motif ini hanya digunakan oleh para bangsawan pada masa dahulu untuk upacara-upacara kenegaraan. Motif ini sampai sekarang masih tetap terjaga. Menurut Koeswadji, 1985 halaman 25, sesuai dengan arti kata, Parang Rusak mempunyai arti perang atau menyingkirkan segala yang rusak, atau melawan segala macam godaan. Motif ini mengajarkan agar sebagai manusia mempunyai watak dan perilaku yang berbudi luhur sehingga dapat mengendalikan segala godaan dan nafsu. • Semen, motif ini berasal dari kata sami-samien , yang berarti berbagai macam tumbuhan dan suluran. Pada motif ini sangat luas kemungkinannya dipadukan dengan ragam hias tambahan lainnya, antara lain: naga, burung, candi, gunung, lidah api, panggungan dan lar, sawat atau sayap. Apabila ditinjau dan dirangkai secara keseluruhan dalam motif batik Semen mempunyai makna bahwa hidup manusia dikuasai ( diwengku ) oleh penguasa tertinggi (Kartini, 2005, 11). Dalam hidup, kehidupan kita sebagai manusia diwarnai dengan berbagai macam godaan yang menentukan jalan kita. Bila kita sesat maka kita akan terjerumus ke dalam neraka yang disebut sebagai tempat paling sengsara dan menyedihkan. Namun jika hidup kira diwarnai dengan kebaikan maka kita kan bahagia karena kita akan masuk surga sebagai tempat paling bahagia dan mulia. • Truntum, motif ini melambangkan cinta yang bersemi kembali. Dalam pemakaianya motif ini melambangkan orang tua yang menuntun anaknya dalam upacara pernikahan sebagai pintu menjalankan kehidupan baru yaitu kehidupan rumah tangga yang sarat godaan. Diharapkan motif ini akan menjadikan kehidupan pernikahan menjadi langgeng diwarnai kasih sayang yang selalu bersemi. • Warna • Warna coklat soga/merah, warna ini dikatakan sebagai warna hangat, sehingga diasosiasikan dengan tipe pribadi yang hangat, terang, alami, bersahabat, kebersamaan, tenang, sentosa, dan rendah hati (Kartini, 2005: 19). • Warna putih, warna ini dikaitkan dengan kebenaran, kebersihan, kesucian yang melambangkan karakter orang yang baik hati yang selalu mengutamakan kebenaran dan kejujuran dalam kehidupannya. • Warna hitam (biru tua), warna ini dikaitkan dengan kejahatan dan kegelapan. Dalam arti yang baik warna ini melambangkan orang yang mempunyai kepribadian yang kuat, tidak mudah terpengaruh oleh pendapat atau komentar orang lain sehingga dalam melaksanakan kewajibannya akan dilaksanakan dengan baik dan penuh tanggung jawab. Sedangkan dalam arti yang tidak baik, warna ini melambangkan keangkaramurkaan, keserakahan, dan kesesatan. • Warna kuning, warna ini melambangkan ketentraman. Segala yang ada di dunia ini adalah baik untuk kehidupan. • Warna merah, warna ini melambangkan keberanian. • Warna hijau, warna ini melambangkan kesuburan. • Warna biru, warna ini melambangkan kesetiaan. • Ornamen Ornamen utama dari motif batik Yogyakarta yang mempunyai makna simbolis adalah: Meru melambangkan gunung atau tanah yang disebut juga bumi. Api atau lidah api melambangkan nyala api yang disebut juga agni atau geni. Ular atau naga melambangkan air atau banyu disebut juga tirta ( udhaka ). Burung melambangkan angin atau maruta . Garuda atau lar garuda melambangkan mahkota atau penguasa tertinggi, yaitu penguasa jagad dan isinya (Sewan Susanto, 1980: 212). Secara umum ornamen-ornemen yang ada adalah: • Ornamen garuda, ornamen ini melambangkan kekuatan dan keperkasaan. Dimana ornamen ini dalam pemakaiannya sering digambarkan dengan bentuk badan manusia dan kepalanya burung garuda. • Ornamen meru, melambangkan atau menggambarkan bentuk puncak gunung tetapi dari penampakan samping. Gunung ini diibaratkan sebagai tempat bersemayamnya dewa-dewa. Motif ini menyimbolkan unsur tanah atau bumi, yang didalamnya terdapat berbagai macam kehidupan dan pertumbuhan. Baik itu kehidupan manusia, hewan, dan tumbuhan. • Ornamen lidah api, ornamen ini sering disebut sebagai cemukiran atau modang. Makna ini sering dikaitkan dengan kesaktian dan ambisi untuk mendapatkan apa yang diinginkan karena dalam pemakaiannya digambarkan dengan deretan api. • Ornamen ular atau naga, ornamen ini dalam pemakaiannya digambarkan ular yang kepalanya memakai mahkota. Ornamen ini melambangkan kesaktian dan kekuatan yang luar biasa. • Ornamen burung, ornamen ini merupakan ornamen utama yang dilambangkan burung merak, phoenix, dan burung yang aneh dan berjengger. Ornamen ini melambangkan kesucian dan dunia atas, karena burung merak ini sebagai kendaraan dewa-dewa. Masyarakat Yogyakarta yang sangat kental dengan kebudayaan Jawanya dalam menjalankan kehidupan ini sangatlah berhati-hati, melihat makna dari segala yang ada. Keberadaan keraton sebagai pusat pemerintahan juga mewarnai pemikiran mereka. Bagaimana orang bertindak harus sesuai dengan sabda Ratu. Dalam menjalani hidupnya juga melihat apa yang menjadi pedoman hidup, seperti aja dumeh (suatu peringatan agar seseorang selalu ingat pada sesamanya) dan aji mumpung (pedoman mengendalikan diri dari sifat-sifat serakah dan angkara murka bila seseorang sedang diberi anugrah dan kesempatan hidup berada “diatas”). Dengan pedoman hidup seperti itu manusia diharapkan dalam hidupnya merasakan ketentraman. Aturan-aturan hidup itu juga tergambar dan tersirat dari sehelai kain batik. Dengan bermacam-macam ornamen, warna, dan motif itu terkandung seperangkat aturan guna menjalani hidup. Batik sebagai hasil kerajinan menjiwai masyarakat Yogyakarta dalam kehidupan sehari-hari baik secara sadar maupun tidak sadar dan di segala bidang kehidupan. Dalam kehidupan bermasyarakat misalnya penerapan makna batik dapat dilihat dari bagaimana masyarakat berhubungan dengan orang lain, saling tolong menolong dan saling bantu sehinga menjadi manusia yang berbudi. Dalam kehidupan keagamaan dapat dilihat bagaimana manusia harus berbuat baik dengan siapa saja dan meninggalkan segala macam godaan agar tidak mengalami kesengsaraan dalam hidupnya karena terjerumus dalam neraka. Begitu pula dalam berbagai bidang kehidupan lain, batik menjiwai setiap manusia dalam melakukan aktivitasnya dalam kehidupan. Tidak dapat kita pungkiri sejalan dengan perkembangan zaman, batik yang memiliki berbagai makna yang menjadikan manusia sebagai manusia yang unggul dibanding dengan manusia lain dalam kehidupan sudah tidak bayak pemakaiannya, namun nilai-nilai dan makna yang ada pada batik tetap lestari dan tetap dijadikan pedoman serta tuntunan manusia dalam menjalankan hidupnya. Dengan kata lain walaupun pemakaian kain batik sudah tidak banyak dilakukan namun maknanya masih dijadikan pedoman hidup bagi masyarakat. Memang hanya sedikit yang masih menjadikan batik sebagai pakaian dalam menjalankan kehidupannya, seperti para pejabat-pejabat kenegaraan serta staf-stafnya yang menjadikan batik sebagai pakaian resmi kenegaraan serta dalam upacara pernikahan. Generasi muda sekarang tidak memiliki ketertarikan untuk melestarikan kerajinan bangsa kita tersebut, mereka lebih suka memakai produk asing yang dapat membuat mereka tampak lebih cantik dipandang, namun tidak sesuai dengan budaya kita sebagai masyarakat timur karena berbenturan dengan norma-norma ketimuran yang cenderung religius, sopan, serta tidak mengumbar aurat. Dapat dikatakan itu bukanlah pakaian yang baik, karena pakaian yang baik adalah pakaian yang dapat menjaga si pemakai pakaian itu. Selain itu pakaian yang baik adalah pakaian yang dalam penggunaannya dapat menjadikan tuntunan dan tatanan bagi si pemakai. Batik sebagai pakaian terkandung didalamnya tuntunan dan tatanan dalam melakukan segala sesuatu yang berguna bagi kehidupan bermasyarakat. Pepatah Jawa meyebutkan “Ajining diri ana ing lathi, ajining raga ana ing busana, agama ageming diri.” Harga diri ada pada perkataan/ucapan, harga diri tercermin pada pakaian yang kita kenakan, agama adalah pakaian yang baik bagi kita. Namun tidak boleh kita lupakan juga, banyak sekali cara yang dilakukan guna menumbuhkan kecintaan kepada batik, diantaranya batik digunakan sebagai pakaian dinas atau kerja dan pakaian sekolah pada hari-hari tertentu, sehingga diharapkan dengan usaha tersebut kecintaan terhadap batik dapat tumbuh. Apapun yang terjadi diharapkan batik akan tetap lestari dan terjaga sampai kapanpun serta nilai-nilai dan maknanya tetap terjaga dan tetap dijadikan pedoman, tuntunan dan tatanan dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara agar manusia menjadi manusia yang bahagia, baik itu kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. BAB III Kesimpulan Dalam menjalankan hidupnya masyarakat Yogyakarta sangat berhati-hati. Melihat-lihat adakah hukum yang mengatur. Bagaimana manusia harus bertindak dan berbuat harus sesuai dengan hukum yang ada, tidak boleh sembarangan karena bisa mencelakakan dirinya. Dalam sehelai kain batik, yang selain sebagai hasil kerajinan juga terdapat tuntutan dan hukum bagaimana manusia itu harus bertindak agar dalam kehidupannya menjadi baik, baik bagi masyarakat, bagi bangsa, dan bagi negara. Semuanya tertuang dari motif, warna, dan ornamen. Makna-makna tersebut menjiwai masyarakat Yogyakarta dan dijadikan tuntunan serta aturan dalam melakukan segala aktivitasnya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Penerapan filsafat batik dalam kehidupan sekarang masih sangat relevan. Filsafat batik ini bisa menjadi pegangan hidup agar dalam menjalankan hidupnya manusia selalu berada pada jalan kebaikan, sehingga dalam menjalankan hidupnya manusia akan mengalami kebaikan, ketentraman, dan kebahagiaan, baik itu dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. BAB IV Daftar Pustaka Hamzuri.2000. Classical Batik .Jakarta:Djembatan. Irawan, Gatoto. Batik dari Titik Menjadi Abadi .www.google.com. K, Koeswadji.1981. Mengenal Seni Batik di Yogyakarta .Yogyakarta:Proyek Pengembangan Permuseuman. Pramono, Kartini.1995. Simbolisme Batik Tradisional.Yogyakarta :Jurnal Filsafar UGM. _____________.2005. Simbolisme Seni Batik Klasik dan Tradisional Yogyakarta :Pidato Dies Natalis XXXVIII Fakultas Filsafat UGM. Rozaki, Abdur, dkk.2003. Membongkar Mitos Keistimewaan Yogyakarta . Yogyakarta : IRE Press. Suseno, Magnis.1985. Etika Jawa .Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama. Suswanto, Sewan.1980.Seni Kerajinan Batik di Indonesia.Jakarta:Departemen Perindustrian RI sumber: http://jurnalmahasiswa.filsafat.ugm.ac.id/nus-8.htm